Skip to main content

Contoh Naskah (Sinopsis/Dialog) Ketoprak Tulungagungan, Judul "VOC"

(Bisa COD) Kualitas Terbaik Hoodie Polos Overdose Chanbaek Chanyeol B M3J3T
Contoh Naskah/Sinopsis/Dialog Ketoprak Tulungagungan, Judul "VOC"
VOC masuk ke tanah Jawa demi melihat perkembangan pasar bebas Asia, karena khususnya Jawa sudah menanam padi. Yang membutuhkan beras dari Asia hanya Hindia. Akhirnya stok beras turah. VOC mempunyai  tujuan mencari beras di tanah Jawa di bawa keluar lalu dijual lagi ke tanah Jawa.
Akhirnya Wirodrono diajak VOC untuk kongkalikong dengan cara menggunakan surat dari Mataram yang dipalsu Wirodrono. Dengan pembelian harga beras murah dinanti-nanti oleh VOC. Pada waktu panen raya padi banyak lumbung penuh beras. Harga beras turun. Pada waktu lumbung penuh, Punggawa Mataram datang untuk membeli beras dengan memberi keuntungan pada petani.
Bersamaan dengan datangnya Punggawa Mataram untuk membeli padi, surat pembelian disabotase oleh Wirodrono dan petani jadi bingung. Akhirnya hutang petani menumpuk dan baru datang surat palsu yang dibuat VOC dan Wirodrono dengan harga yang mencekik petani. Beras yang dibeli VOC dengan surat palsu buatan Wirodrono dengan harga murah lalu dibawa ke Wonosobo, tidak dijual ke Mataram. Tujuannya beras tersebut akan dijual lewat pelabuhan di Surabaya. Karena banyaknya petani harus dibayar maka semua beras dilumbung-lumbung dijual ke Wirodrono dan antek-anteknya yang ditunggangi VOC, dan dikuras habis.
Dengan keadaan seperti itu Surontani menjadi bingung, apakah beras yang diinginkan Sultan Agung seperti saat ini. Hal tersebut menjadi pertanyaan pada Surontani, yang akhirnya hal tersebut diselidiki Surontani. Akhirnya Surontani menyuruh Wirontani untuk menjual beras ke Wonosobo untuk mengetahui siapa yang menerima beras di Wonosobo.
Setelah utusan Surontani datang dengan membawa bukti-bukti (lencanam polkah, surat palsu) membuat Surontani menjadi bertanya dan disitu pula dijelaskan bahwa semua itu adalah tingkah laku Wirodrono. Pada waktu itu pula Surontani mencari Wirodrono. Terjadilah perang antara Surontani dan Wirodrono. Kekalahan Wirodrono menjadi bukti adanya surat asli dari Mataram.

Setelah semua terkuak, atas jasanya Surontani diberi tugas untuk melindungi daerah Wajak dan sekitarnya.
_______________________________________________


Untuk memenuhi stok pasar bebas di negara-negara Asia Tenggara, maka VOC berusaha membujuk Sultan Mataram untuk bekerjasama, tapi menemi kegagalan dan mencoba untuk merayu Pangeran Anom putra Sultan.

VOC 1      : Kenapa sampai hari ini orang yang saya kirim ke Mataram belum juga datang.
(Kemudian datang utusan VOC untuk memberi laporan)
Utusan     : Tuan, sudah saya jalankan tugas saya, akan tetapi Sultan Mataram menolak untuk diajak kerjasama dengan VOC.
VOC 1      : (Sambil marah) Bodoh kamu, tidak bisa mengambil hati Sultan Mataram ! Belanda macam apa kamu !
Utusan     : Jangan kuatir tuan, saya mempunyai gagasan untuk mengajak kerjasama dengan Mataram dengan cara memperdaya putra mahkota Mataram, yaitu Pangeran Anom, yang mempunyai sifat suka berfoya-foya dan bersenang-senang. Sebentar lagi dia akan datang ke tempat ini, kita ajak dia bersenang-senang. Kita paksa untuk menandatangani surat perjanjian kerjasama penjualan beras ke VOC.
VOC 1      : Good….. good… Ide yang bagus… and kamu nonik-nonik nanti kalau pangeran Anom datang, kamu ajak minum-minum sampai mabuk.

(Tak lama kemudian datanglah Pangeran Anom dan saling memberi hormat, Pangeran Anom langsung dijamu dengan minuman sampai mabuk. Pada saat mabuk P. Anom tak sadar kalau lencana kerajaan jatuh.
VOC 1      : Mari silahkan pangeran, kita bekerjasama dan tolong tanda tangani surat perjanjian ini.
(P. Anom dalam keadaan mabuk)
P. Anom  : Bab kuwi gampang, liya dina wae sing penting saiki seneng-seneng. Ha…ha…ha…. (Setelah merasa puas Pangeran Anom kemudian pamit untuk pergi). Wis cukup anggonku seneng-seneng, aku tak pamit.

(Pangeran Anom meninggalkan warung Ayu dan   VOC 1 marah-marah karena rencananya gagal. Pada saat itu nonik menemukan lencana pangeran Anom, yang jatuh di tempat itu).
Nonik       : Ini apa Tuan ? (Sambil menunjukkan lencana)
VOC 2      : Itu lencana kerajaan yang berarti tanda kekuasaan Sultan
(Semua VOC tertawa, akan tetapi bingung bagaimana menggunakan lencana tersebut).

VOC 2      : Jangan kuatir. Saya tahu ada pejabat kerajaan yang mungkin bisa bantu tujuan kita. Tumenggung Wirondrono namanya.
VOC 1      : Bagus…bagus….. Mari kita ke tempat Tumenggung Wirodrono.


Adik Retno Kuning mencari P. Anom dan setelah bertemu P. Anom menyadari kalau lencana kerajaan jatuh akibat minum-nimuman dengan VOC n Anom putra Sultan.

R. Kuning  :   Kakang, panjenengan wonten pundi? Kula ajrih kakang.

(Datang P. Anom dalam keadaan mabuk berjalan dengan sempoyongan dan mengira kalau R. Kuning adalah nonik-nonik Belanda.
P. Anom  : Nonik…. Oh Nonik…. Pancen ayu sliramu, ha…ha…ha….
R. Kuning  :   Kakang, kula rayi Panjenengan pun Retno Kuning. Panjenengan menika wuru Kakang?
P. Anom  : Iya…. Aku bubar wae ketemu para VOC dijak mabuk-mabukan.
R. Kuning  :   Kakang, menika kebangetan, sampeyan apa wis lali ngendikane Kanjeng Romo, yen ora ngeparengake babakan kuwi.
P. Anom  : Ya,… Retno Kuning, aku luput, aku jaluk pangapura, lan bab iki aja mbok aturake Kanjeng Rama.
R. Kuning  :   Iya Kakang….. nanging kakang lencanamu ana endi ?
P. Anom  : (Kaget) Lho …!!!! Aduh mati aku. Iki mesti pokal gawene VOC…! Retno Kuning, yen ngono ayo enggal digoleki.


Ketenaran P. Surontani menjadikan P. Wirodono merasa kalau Sultan Mataram tidak memper-hatikan dirinya. Hal itu menimbulkan niat jelek pada P. Surontani. Hal itu didukung oleh VOC yang juga ingin membunuh P. Surontani.

(T. Wirodrono merenungi kehidupannya sebagai Tumenggung, tidak sekaya seperti punggawa-punggawa kerajaan yang lain, lalu datang istri Tumenggung)
Garwo      : Kakang, kenging menapa, kula tingali saking ketebihan Panjenengan namun mendel kemawon.
T. Wirodron: Nyai Menggung, tenane aku lagi mikir lan iri marang panguripane si Surontani, ya gene dewek ne isa kawentar wiwit brang lor tekan brang wetan yen kaya ngene kanjeng Sultan ora ana pangerten marang aku. Kamangka aku yo….. punggowo padha karo Surontani.

(Tiba-tiba datang VOC lalu memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud dan tujuannya pada Wirodrono, begitu sebaliknya)
VOC         : Nah…., Wirodrono, kalau kamu mau menurut apa kata saya nanti keinginan tuan ingin jadi orang yang terkenal dan kaya raya pasti bisa terwujud.

Wirodrono : Apa ya tenan pangucapmu ? Apa kena tak percaya terus yen ngono apa piandelku ?

(VOC menunjukkan lencana kerajaan, melihat lencana itu Wirodrono yakin bahwa VOC telah diberi wewenang oleh kerajaan.
VOC         : Saya minta Tuan menghadap sultan untuk menyampaikan bahwa Surontani sudah berani menjual beras ke Belanda. Surat bukti perjanjian jual-beli kami tunjukkan pada Sultan, dan saya akan memberi senjata untuk membunuh Surontani. Lencana ini untuk tanda kekuasaan dari Mataram.
Wirodrono : Ya…., bakal ndak tindakake. Apa sing dadi panjalukmu.
VOC         : Terimakasih tuan Wirodrono, kalau begitu saya mohon pamit.

(Setelah VOC pergi istri Wirodrono mengingatkan agar tidak melakukan apa yang dikatakan VOC tapi Wirodrono tidak menggubris dan pergi menghadap Sultan).


Sultan Agung mendapat laporan dari Wirodromo tentang P. Surontani yang telah berkhianat pada kekuasaan Mataram dengan menjual beras ke Belanda. ingin membunuh P. Surontani.

(Suasana pisowanan yang tengah berlangsung datanglah Wirodrono melaporkan bahwa Surontani telah melakukan pengkhianatan terhadap kekuasaan kerajaan dengan menjual beras ke Belanda, dan Wirodrono menunjukkan surat Perjanjian Jual-Beli palsu dari VOC. Dan hal itu membuat Sultan marah)
Sultan      : Surontani ! Wis wani melangkahi penguasaku, Wani adol beras marang Wirosobo. Kowe Wirodono..!! Sisan gawe yang mengkone kowe tak paringi purpo lan waseso cuba buktekna kasunyatane apa bener tumindake Surontani kaya mangkono.
Wirodrono: Kasinggihan kanjeng Sultan, menawi kepareng kula nyuwun sabiantu prajurit Mataram kagem ngadepi Surontani.
Sultan      : Ya……, budalmu tak gawani prajurit Mataram.
Juru Kiting: Pangapunten kanjeng Sultan, menapa mboten keladuk dawuh Panjenengan menapa sampun dipun penggalih kanti saestu? Kula kuwatos menawi pangkenipun Surontani salah penampi babakan menika.
Sultan      : Sampun eyang juru kula kinten namung menika, margi engkang kedah dipun tindakaken. Wirodono… enggal budalo.
Wirodrono : Ngestoaken dawuh.

 Melawak tentang Komoditas beras berkhianat pada kekuasaan Mataram dengan menjual beras ke Belanda. ingin membunuh P. Surontani.

  

Banyaknya beras yang tersimpan di lumbung membuat kawula wajak kebingungan dan Tumenggung Surontani memberi jalan keluarnya. /body> ingin membunuh P. Surontani.

(Sumintro pulang dari sawah menuju dapur tidak menemukan makanan minuman di dapur sehingga marah-marah pada istrinya.
Sumitro    : Iki piye karepe bojoku, wong lanang muleh nyambut gawe kok ora digawekne panganan lan dicepaki ngombe (sambil memanggil istrinya).
Sulastri    : Nyapo to kang…. Teko-teko kok nesu, kudune sing pantes nesu kuwi aku. Aku protes marang kowe kang.
Sumitro    : Protes….. protes piye sing mbok karepake wong aku iki nesu.
Sulastri    : Ngene lho Kang….. Iki perkara rakyat akeh. Sampeyan kuwi kudu gelem cancut tali wanda mecahne perkara iki. Sampeyan ngerti dewe sejatine aku bingung babakan beras……. Kang ana ing lumbung wis semana malimpah ruah akehe……. piye carane ngedol mbok ya sampeyan matur marang ndara Tumenggung Surontani.

 Sumitro    : Ngertio yen beras kuwi cadangane kanggo keraton. Ya wis ben ngono wae lan kuwi ora oleh didol ning ngendi-endi wae.
(Terjadilah pertengkaran pada puncaknya. Kemarahan Sumitro dan Sulastri tiba-tiba datanglah Surontani yang kebetulan lewat)

Surontani  : He…he… !!! Ana apa kok pada gegeran ?
(Sumitro dan Sulastri menjelaskan permasalahannya)
Surontani  :   Oh…. Mangkana ta ? Bab kuwi wes tak temoake carane, beras iku sing separoh di dol ning daerah Wonosobo.
Sumitro& Sulastri: Lek mekaten matur nuwun ndoro Menggung.
(Begitu Surontani meninggalkan tempat Sumitro dan Sulastri mendengar suara gemuruh pasukan yang terlihat bendera Mataram, akhirnya Sumitro dan Sulastri berlari ke Katemenggungan Wajak)
                       

Tumenggung Surantani mendapat laporan adanya pasukan Mataram di daerah Wajak.

Surontani  :   Mangertio kowe kabeh yen saktenane Wajak kuwi bumi kang subur lan sugih. Coba kae sawangen sisih kana ana tinggalan Wantilan Gajah, Candi Sanggrahan, dumpal kang gambarake yen Wajak biyen kerep dadi jujukane para Punggawa keraton Majapahit iku perlu dirumat kangge pengeling-eling anak putu ing besuke.
Punggawa: Inggih ndoro menggung (Serentak).
Surontani  :   Ora mung kuwi nyatane hasil bumine Wajak akeh nganti turah-turah mung kanggo nyukupi kebutuhane kawula Wajak. Mula saka kuwi hasil bumi kuwi sing separo pancen tak dol ing Wonosobo.
Punggawa    :Nyuwun sewu Ndoro, Menggung menapa mboten klentu anggenipun nyade beras ing Wonosobo, apa mboten ateges Panjenengan mbalelo dating Mataram.
Surontani  :   Mangertio, .. anggonku ngedol beras ing Wonosobo awit dinane iki ing kana lagi kekurangan pangan. Sing kaping pindo regane beras isa luwih larang. Sing kaping telu ana bab sing wigati lan winadi sing ora perlu tak kandakke marang kowe kabeh.
(Datang Sumitro lan Sulastri dalam keadaan panik melaporkan apa yang sudah dilihatnya).
Sumitro    : NDara, Ndara, kepareng matur bilih lawadan WAjak bade dipun serang prajurit saking MAtaram.
Surontani  :   (Sambil berdiri melihat keluar). Nduwe karep apa prajurit MAtaram teka mrene…! Edan! Hei kowe-kowe kabeh.
(Bicara dengan prajurit Katemenggungan) Ndereake aku mapak prajurit Mataram.

Terjadi peperangan antara Punggawa Wajak dengan prajurit Mataram yang dipimpin oleh Wirodrono ditunggangi pasukan VOC /html> /body> ingin membunuh P. Surontani.

(Terjadi perang. Punggawa Wajak mundur, dengan keberaniannya Surontani tetap melawan prajurit Mataram dan bertemu Wirodrono. Mengetahui Wirodrono akan membunuhnya dengan senjata pemberian VOC maka Surontani mengeluarkan kesaktiannya menjadi harimau, akhirnya Wirodrono lari tunggang-langgang. Melihat hal tersebut pasukan VOC yang ikut peperangan untuk membunuh Surontani akhirnya kewalahan yang melawan Surontani yang berubah wujud menjadi harimau akhirnya senjata dan lencana kerajaan yang dibawa Wirodrono jatuh dapat diambil oleh Wirontani).
                 

 Adanya pertemuan antara Sultan Agung dengan Kanjeng Ratu Kidul untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di Mataram. 


Sultan Mataram berpikir untuk membujuk Surontani sowan ke Mataram guna menyelesaikan masalah di Wajak.

Patih        : Kanjeng Sultan, menawi pemanggih, kula prayoginipun Surantani kedah dipun tumpen amargi ing benjangipun saget mbebayani tumrap kesultanan Mataram.
Sultan      : Cukup!... Apa wis mbok piker kang dadi ucapmu.
Juru Kiting: Nyuwun sewu Kanjeng Sultan. Keparenga kula sumela atur bilih babakan Wajak menika menapa mboten prayogi dirampungaken kanthi dipun wontenaken rundingan utawa musyawarah. Menawi dipun keparengaken panjenengan utusan Nyai Menggung Adisoro.

(Kalimat keterangan Sultan memahami yang dimaksud Juru Kiting. Akhirnya Nyai Adisoro diutus menuju ke Wajak guna berunding dengan Surontani dan juru Kiting diperintahkan untuk mengawasi)




Terjadinya perdebatan antara Surontani dengan Nyai Adi Soro yang akhirnya dapat dirampungkan oleh juru Kiting serta menangkap tumenggung Wirodrono sebagai pengkhianat.

(Mundurnya pasukan Mataram yang diburu wadya bala Wajak dihadang oleh Nyai Tumenggung Adisoro).
Nyai Adisoro: Cukup ! Mandeka anggonmu ngoyak prajurit Mataram (Nyai Adisoro turun dari kudanya).
Surontani  :   Wonten kersa menapa Panjenengan nyandet anggen kula munduraken prajurit Mataram.
Nyai Adisoro: Ngene kakang Surontani, aku diutus kanjeng Sultan ngrampungake perkara ing Wajak. Ya gene sampeyan pirang-pirang pasowanan ora nate teka, malah saiki wani merangi prajurit Mataram. Duwe karep apa sampeyan.
Surontani  :   Kula namung ngugemi dawuhipun kanjeng Sultan bilih kula dipun utus bentengi Bupati brang Lor kang mbalela. Sejatosipun kula bingung, kengeng menapa prajurit Mataram kok malah nyerang dateng Wajak.
Nyai Adisoro: Kabar sing tak tampa sampeyan wani ngedol hasil beras ning Wonosobo lan ing bangsa Walanda tanpa palilae Kanjeng Sultan.
Surontani  :   Bab perkara kuwi Panjenengan kudu ngerti yen kebutuhane Wajak ora setitik, digawe mbangun lan nyukupi kebutuhan lan kemakmurane kawula Wajak. Beras kang didol ing Wonosobo kuwi digawe nyukupi kebutuhane wewangunan ing Wajak. Sing wigati Panjenengan kudu ngerteni aku ora ngedol beras ana ing bangsa Walanda.
Nyai Adisoro: Arep dikaya ngapa bukti wis ana yen sampeyan mbalela merangi prajurit Mataram, mula manuta tak sowanake ing Mataram.
(Surontani menolak untuk dibawa Mataram karena merasa tidak bersalah hingga akhirnya akan terjadi peperangan,Tiba-tiba datanglah Juru Kiting menengahi.
Juru Kiting: Sik-sik… sik aja pada padudon sak tenane ana apa. Ya gene kowe Surontani wani mbalela ing Mataram.
Surontani  :   Mboten ateges kula wani kalian Mataram, kula namung bingung prajurit Mataram dugi ing Wajak sampun wakul kinepung untu baya mangap.
(Ditengah pembicaraan tiba-tiba datang Wirontani membawa senapan, lencana lan polkah. Begitu tahu Wirontani membawa lencana kerajaan seluruh yang ada member sungkem hormat. Akhirnya juru Kiting lalu menyimpulkan bahwa seluruh kejadian ini adalah salah paham. Juru Kiting mengajak Surontani sowan ke Mataram dan menyuruh Nyai Adisoro untuk menangkap Wirodrono yang dianggap pengkhianat Kesultanan Mataram).


Sekian, semoga bermanfaat !

Comments



Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright © 2021 | BlusukanSmart.Info | All Rights Reserved